Author Archive

jalan terbaik

mataku gerimis saat dengar lagu ini,
benarkah ini jalan terbaik,
sungguhkah? lalu kenapa ada perih dihati ini?
mengapa terasa hampa hidup ini?
 
Jalan Terbaik – Seventeen
 
Semua telah berakhir tak mungkin bisa di pertahankan
Hanya luka jika kita bersama karena jalan ini memang berbeda

semua yang terjadi tak akan kembali jalan kita memang berbeda
namun hati ini tak mungkin kembali

kuyakin kita akan bahagia tanpa harus selalu bersama
tak perlu disesali
tak usah ditangisi
kuyakin ini jalan terbaik
walau kita tak lagi berdua
tak perlu disesali
tak usah ditangisi

capek

gwa dah capek bersedih, mengasihani diri,

sudah saat nya gwa bangkit, airmata sudah kering walau luka masih membusuk

saatnya gwa songsong gelap didepan

entah onak duri atau selaksa bahagia yang akan menyambutku disana

tak akan tahu jika tak segera merengkuhnya

jadi, pada gelap, pada bimbang, pada nyeri ingin kuteriakan

AKU SIAP !!!

puisi

puisi adalah jeritan bathin yang terluka atau gema rasa yang tertawa

hanya saat ini rasanya sulit ku tuangkan rasa itu

saat kaki hendak melangkah ke dalam ruang kehampaan

mengapa tangan ini tak jua ingin menggapai

seolah asa sudah tak ada lagi disini

hanya kepasarahan atau sekedar gaung dari ketidak berdayaan

hingga saat kau bertanya

mengapa seolah aku telah mati

saat ruh masih bersemayam diraga

ketika

ketika nanti
ada sesuatu pada cahaya matamu
berpendar di ruang gelap tempat aku bersembunyi
maka kini
ada senyum
mengantar asa seumpama pagi memberi harap
dan ketika malam menghabiskan 24 jam sehari
dan hujan menghantarkan air
dua puluh dua ribu tujuh ratus delapan mili kubik tiap jengkal hati
ketika itulah tiada lagi kini dan nanti
sebab hati telah berhenti saat kini dan nanti tak lagi memberi arti

kecamuk

kata-kata mulai hambar kini
saat benak terlalu berat menanggung duga
pagi tak lagi memberi harap
terang siang hanya menghantar panas
dua ribu tujuh ratus lima puluh delapan derajat tanpa makna
senja yang biasanya ranum dengan puitisasi hati
kini terdiam tergugu menjemput malam
yang sama tercenung pada subuh
dan
keruh kembali membuncah
di rongga dada
lalu samar hati mengiya
gelapnya

Walau Habis Terang – Peterpan.

Ku terbiasa tersenyum tenang
walau aargh…
hatiku menangis

Kaulah cerita
tertulis dengan pasti
selamanya dalam pikiranku

Peluk tubuhku untuk sejenak

dan biarkan kita

memudar dengan pasti

biarkan semua seperti seharusnya

tak kan pernah menjadi miliku

 

Lupakan semua
tinggalkan ini
Ku kan tenang
dan kau kan pergi

Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu

Di antara beribu lainnya
kau tetap..
kau tetap..
kau tetap..
benderang
O.. oo

bung

bung!

bila riakmu tak berair; biarkan sungaiku menciduk ikan

atau;

sudahi saja labuhmu, dan

biarkan biduk berlayar

ke hilir;

menuju muara

segala mula

Do’a sia-sia-2758

benak berkelahi dengan bathin

Mereka memperebutkan sebongkah daging, hati

ke mata, otak berkata; tak kau lihat pula, kenapa kau harus percaya!

di bathin, mata bicara; kau sudah rasakan ia?

sementara jantung terus berdenyut,

menyebut nama ia lebih tujuh puluh kali dalam semenit

walau sang ia menangis berharap

terkapar

di kamar hotel murahan berpeluh berdaki-daki

Carpe Diem–958

Malam-malam terbangun

Suara lelaki menabuh genderang dikepala

Suara perempuan melenguh

Lalu terbahak menertawakan kekosonganku

Malam-malam terjaga

Terduduk aku

menimang sebilah belati berkarat; pada sesiapa ia akan kurebahkan

malam-malam terisak

mereka terlelap aku terjaga

malam-malam panjang

malam-malam pendek

malam-malam berlari

Carpe Diem-228

Sungai darah mengalirkan susu, kau minum seteguk tak sirna haus

Diremang wisma homy sang pendosa berkhotbah;

Wahai lelakiku, surga bukan terletak dibawah kaki ibu tapi dipangkal kaki lelaki sejati

Older entries »