Archive for September, 2008

ketika

ketika nanti
ada sesuatu pada cahaya matamu
berpendar di ruang gelap tempat aku bersembunyi
maka kini
ada senyum
mengantar asa seumpama pagi memberi harap
dan ketika malam menghabiskan 24 jam sehari
dan hujan menghantarkan air
dua puluh dua ribu tujuh ratus delapan mili kubik tiap jengkal hati
ketika itulah tiada lagi kini dan nanti
sebab hati telah berhenti saat kini dan nanti tak lagi memberi arti

kecamuk

kata-kata mulai hambar kini
saat benak terlalu berat menanggung duga
pagi tak lagi memberi harap
terang siang hanya menghantar panas
dua ribu tujuh ratus lima puluh delapan derajat tanpa makna
senja yang biasanya ranum dengan puitisasi hati
kini terdiam tergugu menjemput malam
yang sama tercenung pada subuh
dan
keruh kembali membuncah
di rongga dada
lalu samar hati mengiya
gelapnya
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.