benak berkelahi dengan bathin
Mereka memperebutkan sebongkah daging, hati
ke mata, otak berkata; tak kau lihat pula, kenapa kau harus percaya!
di bathin, mata bicara; kau sudah rasakan ia?
sementara jantung terus berdenyut,
menyebut nama ia lebih tujuh puluh kali dalam semenit
walau sang ia menangis berharap
terkapar
di kamar hotel murahan berpeluh berdaki-daki